Megahnya Candi Borobudur Peninggalan Dinasti Syailendra


Agenda pemerintah memasang biaya naik ke atas Candi Borobudur sebesar Rp 750.000 per orang memunculkan pro kontra di masyarakat. Pemerintah beralasan, agenda hal yang demikian yaitu upaya konservasi jalanjalanaja.com atau pelestarian web sejarah. Lonjakan harga karcis juga dibarengi dengan pengendalian jumlah turis, ialah 1.200 orang per hari.

“Langkah ini kami lakukan semata-mata demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah dan tradisi nusantara,” ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, dikutip dari Candi Borobudur mempunyai sejarah panjang. Web ini ialah bukti sejarah perkembangan agama Buddha di Indonesia. Berikut sejarah Borobudur seperti dirangkum.

Sejarah Candi Borobudur

Sejarah Borobudur Menurut isu dari web Cagar Tradisi Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan, Candi Borobudur diduga didirikan pada pemerintahan Dinasti Syailendra antara 750 – 842 masehi. Pendiriannya, diperkirakan secara berjenjang dan gotong royong sebagai bentuk kebaktian ajaran agama Buddha. Balai Konservasi Borobudur dalam situsnya menceritakan, Sejarawan J.G. de Casparis beranggapan bahwa pendiri Candi Borobudur yaitu Raja Samaratungga yang menyuruh pada 782-812 masehi, masa Dinasti Syailendra. Candi Borobudur dibangun untuk memuliakan agama Budha Mahayana.

Baca Juga : Gunung Sadahurip yang Berbentuk Piramida di Garut

Anggapan itu menurut interpretasi prasasti berangka tahun 824 masehi dan prasasti Sri Kahulunan 842 masehi. Lihat Foto Karcis masuk Borobudur dikala ini ditentukan sebesar Rp 50.000, sementara harga karcis masuk Candi borobudur atau karcis Borobudur untuk si kecil yaitu Rp 25.000. Cagar Tradisi Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan dalam situsnya menceritakan, ada tafsiran lain yang menuturkan bahwa Candi Borobudur bukanlah semata-mata berlatar agama Buddha. Lebih dari itu, bangunan candi diberi pengaruh oleh konsep pemujaan leluhur yang dibuat dalam format bangunan berteras.

Keragaman Fungsi Candi Borobudur

Oleh karena itu, Candi Borobudur memiliki keragaman fungsi ialah monumen untuk memuliakan leluhur pendiri Dinasti Syailendra dan memuliakan agama Buddha. Penemuan Borobudur Candi Borobudur berlokasi di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Web sejarah itu sempat ditinggalkan. Dugaan sementara sejumlah spesialis, penyebab rumit candi hal yang demikian ditinggalkan yaitu petaka Gunung Merapi meletus pada 1006. Tetapi, hasil penelitian geologi, vulkanologi, dan arkeologi belum bisa menggambarkan letusan hebat hal yang demikian.

Pada abad ke-18, bisa dipastikan Candi Borobudur telah tak diterapkan lagi. Sebagian naskah Jawa, salah satunya Centhini, menceritakan lokasi candi ini sebagai bukit atau daerah yang bisa membawa kematian atau kesialan. Artinya, daerah ini telah ditinggalkan sebagai daerah suci agama Buddha. Pada 1814, Candi Borobudur kembali ditemukan. Balai Konservasi Borobudur dalam situsnya menceritakan, Sir Thomas Stanford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris menerima isu bahwa di tempat Kedu ditemukan susunan batu bergambar. Kemudian, Raffles mengutus seorang Belanda bernama Cornelius untuk memimpin pembersihan web yang dikala itu tertutup oleh tanah, semak belukar, dan pohon-pohon.

Pada 1835, pembersihan itu dilanjutkan oleh Residen Kedu yang bernama Hartman. Tidak cuma pembersihan, dia juga mengadakan penelitian mengenai web hal yang demikian. Tetapi, laporan mengenai penelitian ini tak pernah terbit. Prosesi ini dalam menyambut Perayaan Tri Suci Waisak 2556 BE. Perayaan hal yang demikian memperingati tiga momen penting yakni kelahiran, kesempurnaan dan wafatnya sang Budha Gautama.

Pemegaran Candi Borobudur

Pemugaran Borobudur Pemugaran besar-besaran Candi Borobudur tercatat sebanyak dua kali, menurut isu dari Balai Konservasi Borobudur. Pemugaran pertama dikerjakan oleh Pemerintah Hindia Belanda dibawah pimpinan Van Erp dan kedua oleh Pemerintah Indonesia diketuai oleh Soekmono. Pemugaran pertama pada 1907-1911, dikerjakan sepenuhnya oleh pemerintah Hindia Belanda di bawah komando Van Erp. Pemerintah Hindia Belanda setuju untuk menggelontorkan dana 48.000 gulden untuk pemugaran candi. Target pemugaran lebih banyak dimaksudkan pada komponen puncak candi yakni tiga selasar bundar dan komponen stupa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *