Ritual Jamasan Pusaka di Bulan Suro Sebagai Tanda Mencintai Budaya

News —Minggu, 15 Aug 2021 23:07
    Bagikan  
Ritual Jamasan Pusaka di Bulan Suro Sebagai Tanda Mencintai Budaya
Ritual Jamasan Pusaka di Bulan Suro Sebagai Tanda Mencintai Budaya/matajateng.com

SEMARANG, JALAN-JALAN AJA

Memasuki awal bulan Muharam setiap pergantian tahun Hijriyah, banyak kalangan kebudayaan melakukan ritual penjamasan gaman atau penyucian senjata keramat. Ritual unik yang dilakukan di rentang waktu antara tanggal 1 hingga 10 Suro (Muharam) tersebut tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia sendiri. Ritual itu sendiri saat ini menjadi sebuah peringatan budaya yang perlu dilestarikan. 

Salah satu kegiatan penjamasan yang cukup unik dilakukan oleh Kang Ali Tuba Asy'arie, Pimpinan Majelis Panembahan Saung Cinta dan Gubug Mahabah di Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Minggu 15 Agustus 2021. 

Pria yang juga menjadi Kepala Satuan Koordinator Cabang Banser Kota Semarang ini menjelaskan ritual tersebut adalah bagian dari merawat budaya, bukan ritual mistis yang menjurus pada kemusyrikan. 

"Ini adalah bagian dari budaya, bukan masalah mistisnya. Karena mencintai budaya adalah bagian dari mencintai Indonesia. Sementara generasi muda sekarang ini banyak yang mengabaikan hal-hal semacam ini, lha kami berniat ingin melestarikan budaya-budaya itu," ujarnya usai melakukan ritual penjamasan. 

"Makanya setiap sebelum tanggal 10 Suro (Muharam) kami melakukan penjamasan (Perendaman) gaman (senjata keramat) sebelum mutih (dicuci) pada tanggal 10 Suro," tandasnya. 

Baca juga: Kenapa Libur Di Hari Minggu, Inilah Sejarah-nya

Baca juga: Sebanyak 4,050 Paket Sembako Disalurkan Kepada Warga di Jateng yang Terdampak Pandemi

Ali Tuba kemudian menjelaskan salah satu gaman yang dia miliki yang bernama Tosan Aji. Dia mengatakan gaman tersebut dia dapat dari seorang guru yang konon didapatkannya dari Damaskus, Suriyah. 

Tosan Aji sendiri pernah ditawar oleh kolektor barang kuno seharga 10 juta rupiah, namun tidak dilepas oleh Ali Tuba.  "Dan ini adalah Tosan Aji, senjata dari Damaskus yang saya dapat dari guru saya untuk disimpan di rumah. Dan konon katanya hanya beberapa orang yang memiliki gaman ini, makanya saya rawat seperti ini. Dan ini dulu tahun 2013 pernah ada seorang kolektor yang menawar seharga 10 juta rupiah. Cuman karena saya mencintai senjata ini akhirnya saya tidak melepasnya," ujarnya.

Ali Tuba juga menjelaskan salah satu gaman koleksinya ada yang dititipkan kepada seorang kolektor untuk dirawat. Gaman tersebut pernah ditawar 30 juta rupiah pada 1997 lalu, bernama Keris Petir Langit. 

"Ada gaman bernama Keris Petir Langit, titipan dari seorang kolektor. Tahun 1997 pernah ditawar 30 juta rupiah. Sama dengan tadi tidak saya lepas. Kalo sekarang harganya naik sekitar Rp 60 juta. Namun si kolektor yang punya gaman ini juga tidak mau melepas," jelasnya. 

Selain itu, Ali Tuba juga mendapat titipan gaman khas madura yang bernama Calok. "Ini gaman khas Madura, namanya Calok, berbeda dengan carok yang bentuknya celurit, nah ini calok mirip-mirip tombak," tandasnya. 

Baca juga: Gurame Bakar Rumahan Ini Cara Membuatnya

Baca juga: Di Wajibkan Memakai Masker Selama Pandemi Ini , Simak Sejarah Masker Berikut

Ali Tuba mengakui, dirinya mendapatkan gaman-gaman tersebut melalui beberapa cara. Dari beberapa barang di sini ada yang tiba-tiba muncul sendiri tanpa sengaja, menemukan saat sedang melakukan persemedian. ''Ada yang memang titipan dari kolektor. Ada juga yang pemberian dari seseorang yang merasa tidak mampu merawat lalu kami bersedia merawat," ujarnya.

Ali Tuba dan rekannya memiliki 60 buah gaman dan 150 gaman titipan kolektor untuk dilakukan penjamasan. "Gaman yang kami rawat ada 60-ah buah, biasanya ada juga orang yang meminta dicucikan, sehingga total ada 150-an lebih," jelasnya.

 Kyai Nur Shodiq, tokoh agama dan tokoh kebudayaan desa setempat juga menunjukkan gaman miliknya saat penjamasan. "Saya memiliki gaman berupa tombak Wahyu Temanten Pinayungan satu pasang (dua buah) yang diberikan oleh seseorang bernama Mbah Mawardi, keturunan ke-6 seorang pejuang kesultanan Mataram," ujar Kyai Nur Shodiq.

Kyai Nur Shodiq mengatakan, dirinya sebenarnya tidak memiliki ikatan darah dengan Mbah Mawardi ataupun dengan pejuang kesultanan Mataram tersebut. Namun dirinya mendapat kepeecayaan karena kenal baik. 

Baca juga: Wedang Jahe Hangat Bagus Untuk Kesehatan Ini Cara Membuat nya

Baca juga: Cita Rasa Klepon Martapura Rasa Manis Yang Menggugah Selera , Langsung Bikin Di Rumah

"Saya sendiri sebetulnya tidak memiliki ikatan darah dengan Mbah Mawardi atau pejuang kesultanan Mataram tersebut. Namun karena saya kenal baik, maka saya dipercaya untuk merawat gaman ini," jelasnya.

Karya Seni

Sama seperti Ali Tuba, Kyai Nur Shodiq juga seorang pecinta budaya dan barang-barang kuno yang memiliki nilai sejarah. Kyai Nur Shodik menegaskan bahwa gaman-gaman tersebut adalah karya seni yang perlu dirawat untuk mengingatkan generasi berikutnya terkait perjuangan leluhur di masa lalu. 

Kyai Nur Shodiq menegaskan, merawat gaman adalah upaya merawat ingatan. "Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya bukannya mempromosikan mistisisme, tapi lebih karena kecintaan saya dengan budaya. Karena gaman-gaman ini adalah sebuah karya seni yang sangat agung, yang mana para pembuat gaman ini melakukan proses panjang seperti tirakat dan semedi hingga menjadi senjata bagi para pejuang pada zaman dahulu," ucapnya. 

Pada tahun-tahun sebelumnya saat belum ada pandemi covid-19, para praktisi budaya di Kelurahan Gondoriyo mengadakan prosesi acara untuk melakukan upacara penjamasan, sekali lagi sebagai perayaan budaya. "Tapi sekarang kami pending dulu untuk menghindari kerumunan," tandasnya.

"Tapi yang penting bagi kami adalah setiap tahun melakukan perawatan untuk menghormati karya besar ini agar tidak karatan," pungkasnya.(sunarto)

Baca juga: Dinas Sosial Jawa Tengah Pindahkan Poniman ke Panti Sosial

Baca juga: Viralkan Kemerdekaan Indonesia Gunakan Morse. Ganjar : Kisah Soegiarin Sangat Heroik

 


Editor: Riyan
    Bagikan  

Berita Terkait